Amunisi Paripurna Travel Blogger: Asus ZenBook UX331UAL


Punya hobi jalan-jalan selama bertahun-tahun membuat cara packing saya berubah seiring berjalannya waktu. Dulu saya penganut traveling ala ransel. Karena masih muda, bawa ransel jadi pilihan praktis dan bawa barang sebanyak apa pun masih kuat. Bertahun-tahun kemudian bawa ransel jadi mempunyai efek samping pegal-pegal, usia gak bisa bohong ya. Hehehe...

Beralih menjadi tim koper saya tetap berusaha untuk selalu travel light. Andalan saya adalah koper kabin yang jarang terisi penuh, apalagi kalau mudik ke Lombok, jaga-jaga mertua titip oleh-oleh buat di rumah. Hehehe....

koper andalan
Nah, saat traveling ini seringkali jadi saat-saat ide bermunculan untuk menulis blog, apalagi seringkali menemukan hal-hal baru atau tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi. Begitu sampai hotel rasanya ingin segera mindah foto-foto ke laptop dan menulis cerita lengkapnya, karena masih begitu segar dalam ingatan.

Tapi hanya sekedar keinginan. Hehehe.... Saya gak mungkin bawa laptop yang beratnya lumayan menambah berat barang bawaan. Belum lagi harus bawa charger baterai laptop karena laptop saya tidak bisa hidup tanpa charger tertancap pada colokan listrik. Sudah kebayang repotnya bahkan sebelum dibawa.

Sebagai gantinya, saya selalu membawa buku catatan untuk menuliskan hal-hal penting sebagai pengingat kala menulis cerita lengkapnya nanti (saat di rumah). Tapi hal ini menjadikan tulisan saya kadang jauh dari bayangan awal saya. Ingatan saya tidak setajam itu, apalagi mengingat detail. Banyak hal-hal terlewat karena niat menulis nanti (ketika di rumah) bukan berarti langsung menulis begitu benar-benar sampai di rumah, tapi menjadi nanti-nanti aja deh.

printilan traveling saya :D
Bagaimana kalau laptopnya seringan membawa kamera dan printilannya? Bagaimana kalau laptop itu gak muat space yang berarti di laptop? Atau bagaimana kalau gak perlu takut kehabisan baterai saat tiba-tiba ide muncul pas seru-serunya plesir di tengah pulau kecil tanpa colokan listrik?

Kuliner di sekitar Kota Tua Jakarta

Kota Tua Jakarta
Kota Tua Jakarta adalah salah satu kota tua di Indonesia yang dijaga keasliannya. Tidak seperti di Semarang yang masih dilalui kendaraan bermotor, kawasan ini sebagian besar hanya untuk pejalan kaki atau pun pengguna sepeda angin.

Niat awal adalah keliling Kota Tua seharian, menikmati keindahannya, belajar sejarah, ambil sudut-sudut cantik untuk berfoto, dan juga incip-incip makanan di kafe-kafe kecil yang banyak tersebar di sana. Nyatanya? Cuaca terlalu panas untuk bertahan lama di sana dan juga ramai pengunjung karena memang hari libur, alhasil setelah berkeliling sebentar, kemudian mampir ke salah satu kedai, kami (saya dan suami) memutuskan kembali ke hotel. Hahaha....

Untuk menjadi food blogger, ternyata kami juga tidak berbakat. Mampir beberapa tempat aja kami sudah kekenyangan 😅

[REVIEW HOTEL] Oceans 5 Dive Resort, Akses Terdekat ke Dermaga Penyeberangan

boat milik Oceans 5 Dive Resort
Buat yang gak mau capek-capek bawa/geret tas/koper ketika baru tiba di Gili Air, Oceans 5 Dive Resort sangat recommended buat tempat menginap ketika berlibur di sini. Hotelnya tepat berada di depan dermaga penyeberangan. Kalau memang mau menyusuri pulau lebih jauh, bisa menyewa sepeda atau naik dokar alias kereta kuda nantinya.

Kalau menurut situs online ada tiga tipe kamar yang ditawarkan di hotel ini, yaitu Standard Room, Poolside Bungalow with Extra Bunk Bed, dan Poolside Bungalow. Karena waktu itu datang berdua, kami skip yang tipe kedua (with extra bunk bed).

Pura Taman Mayura di Kota Mataram


Taman Mayura berada di kota Mataram, dikelilingi oleh banyak pertokoan, dan mudah dicapai dari pusat kota.

Kami datang saat hari masih pagi, tidak terencana setelah keliling mencari sarapan khas Pulau Lombok. Sudah ada beberapa pengunjung, tapi tidak terlalu ramai.

Begitu masuk pandangan mata kita langsung tertuju ke bangunan yang berada di tengah kolam. Bangunan tersebut bernama Rat Kere atau Gili yang dalam bahasa Sasak berarti pulau kecil. Bangunan tersebut dipakai untuk tempat berkumpul atau rapat, atau digunakan untuk menerima tamu kerajaan.

Bukit Jaddih: Dulu dan Sekarang

Bukit kapur Jaddih, adalah bekas penambangan batu kapur putih yang terletak di wilayah Bangkalan, Pulau Madura. Awalnya tempat ini jelas bukan tempat wisata, tapi sekarang menjadi salah satu tempat instagrammable di pulau ini. Kekuatan media sosial memang tidak diragukan menjadi salah satu faktor pemicu kedatangan wisatawan ke tempat ini.

Kedatangan wisatawan yang begitu sangat meningkat, membuat tempat ini mulai menjadi perhatian warga (atau mungkin pemerintah) setempat untuk mengelola tempat ini menjadi kawasan wisata. Dalam rentang dua tahun kunjungan saya, tempat ini sudah berubah sangat banyak.

Bukit Jaddih, 2016
Letak lokasi yang agak sedikit terpencil, membuat saya harus fokus memperhatikan Google Map dan lokasi dimana kami berada. Melewati jalan berdebu, sepi, dan bangunan yang masih jarang membuat saya (kali itu bersama dua orang teman perempuan) agak waswas dengan jalan yang katanya masih rawan kejahatan tersebut.

Tidak banyak petunjuk arah yang bisa kita ikuti, hanya menjadikan Pasar Jaddih sebagai patokan. Tapi karena weekend, agak banyak mobil-mobil pribadi yang menuju tujuan yang sama, sehingga kami tidak tersesat.

Kami berhenti di bagian bukit Jaddih yang datar, memperlihatkan keindahan bukit kapur yang siang itu pastinya panasss 😎