The Adventure oF BROMO



Alhamdulillah, libur lebaran kemarin dapat kesempatan reunian dengan beberapa teman kuliah. Lebih istimewa, karena kami ketemuannya di sebuah pernikahan salah satu sahabat yang ada di Probolinggo.
Nah, mumpung sudah di sana, dilanjutkanlah acara reunian ini di Gunung Bromo. Minus pasangan pengantin itu, pastinya :p

Perjalanan dimulai...
Sehabis Isya' kami memulai perjalanan dari Probolinggo ke Gunung Pananjakan. Perjalanan lumayan menegangkan karena hari sudah gelap, jalanan berkelok dan curam, dan juga jalan licin sehabis diguyur hujan. Beberapa kali kami hampir nyasar karena tidak jelasnya petunjuk jalan.

Jam 9 malam, kami sampai di penginapan. Kabut tebal plus udara dingin membuat kami cepat-cepat meringkuk di bawah selimut.
Sekitar jam 2 pagi, kami bersiap menuju puncak Gunung Pananjakan menggunakan jasa hardtop yang sudah kami sewa. Yeah, we're ready for sunrise!!

Dengan sopir yang lebih berpengalaman dan tau betul medan, ketegangan kami mulai mereda. Meskipun pada saat itu kami berangkat di pagi buta dan masih gelap gulita. Paginya, waktu kami melewati jalan yang sama saat turun ke Bromo, baru ngeh kalau kondisi jalannya sudah rusak dan banyak lubang di sana-sini. Belum lagi pinggir-pinggir jalan adalah tebing-tebing tinggi yang rawan longsor.



Selain upacara Kasada, Bromo juga terkenal akan keindahan matahari terbitnya. Jadi, gak heran kalau di pagi yang dingin menusuk tulang ini, para wisatawan lokal maupun bule lebih rela berduyun-duyun memenuhi lokasi melihat sunrise daripada tidur di bawah selimut tebal.

Matahari terbitnya bagus banget! Subhanallah...Langit yang tadinya penuh bintang perlahan terang dan berganti semburat kemerahan. Pemandangan yang tidak sedikitpun dilewatkan oleh ratusan wisatawan dengan kameranya.



Pemandangan yang lebih spektakuler di sekitar lokasi. Kabut yang tebal seolah-olah membuat kita serasa berada di negeri di atas awan. Belum lagi beberapa gunung yang ada di sekitar, termasuk Bromo dan Semeru yang menjulang tinggi. Indaaah!!

Jam 7.30an kami beranjak turun ke Gunung Bromo. Panoramanya sekali lagi bikin kagum.

Waktu berada di lautan pasirnya, dengan gunung-gunung yang mengitari, kami seakan dibawa ke dunia The Lord of The Rings. Dan kami terjebak di kerajaan Mordor. Bromo adalah gunung api yang dituju Frodo untuk melenyapkan cincin penguasa. Dan, puncak Gunung Pananjakan (tempat melihat sunrise) adalah tempat dimana mata Sauron mengawasi keberadaan cincin. Semoga saja Sauron tidak menyadari keberadaan kami :D

Di kaki Gunung Bromo, kuda-kuda sudah siap untuk ditunggangi sampai ke bawah anak tangga Bromo. Dari sana, kita harus menaiki tangga satu per satu menuju puncak untuk melihat kawah di bawahnya.

Selain wisata berkuda dan menaiki anak tangga, kita juga bisa menjelajahi lautan pasir dan berandai menjelma jadi Dian Sastro di "Pasir Berbisik" dengan sarung khas orang Tengger :p

Juga masih ada hamparan padang rumput atau savana yang kalau dilihat dari kejauhan mirip bukit Teletubbies.

Yay, mari berpelukan!!!

Tea for Two



Semua orang ingin hidup bahagia. Kadang-kadang kita sendiri yang mempersulit keadaan untuk menjadi bahagia.

Itu adalah salah satu quote yang muncul di novel Tea for Two milik Clara Ng. Yup, Clara Ng lagi :)
Di postingan sebelumnya saya pernah bilang sedang berburu novel-novel Clara Ng. Sedikit terlambat sih, karena novel Tea for Two ini adalah novel kesebelasnya yang muncul di tahun 2009 kemarin. Sejak pertama menemukan novel Clara Ng, jujur saya langsung jatuh hati dengan gaya penulisannya. Dia salah satu novelis yang menurut saya sangat keren dan karya-karyanya selalu menampilkan sosok perempuan yang sangat berbeda satu sama lain.

Hmm, back to Tea for Two..
Sebenarnya novel ini pengennya nanti-nanti dulu carinya. Masih pengen berburu novel Clara Ng yang lebih lama lagi. Tapi beuh, susah :( Sampai sekarang baru menemukan trilogi Indiana yang ketiga, Dimsum Terakhir sepertinya harus pesan online, dan Utukki Sayap Para Dewa keliatannya sudah hilang dari peredaran. Ya udah deh, Tea for Two dulu juga gpp :)

Tea for Two adalah sebuah perusahaan mak comblang yang dimiliki oleh tokoh utama dari novel ini, bernama Sassy. Hidup bahagia selama-lamanya adalah moto perusahaan Tea for Two. Tapi novel ini tidak akan bercerita banyak tentang perusahaan Tea for Two, tapi tentang kehidupan Sassy.
Hidup Sassy berubah drastis ketika bertemu dengan sosok Alan, laki-laki yang membuatnya jatuh cinta dan penuh dengan kejutan menyenangkan. Sosok laki-laki yang menurut dia sangat sempurna untuk menjadi pendamping hidupnya. Tak perlu waktu lama bagi Sassy untuk menerima kehadirannya dan berlanjut ke pernikahan, hanya 8 bulan.

Selama ini Sassy percaya bahwa pernikahan adalah jalan indah menuju kebahagiaan dan impian-impiannya. Tetapi tidak bagi pernikahan Sassy. Sosok ALan yang selama 8 bulan dikenalnya sudah sangat berubah ketika mereka menikah. Alan adalah orang yang tidak segan-segan melakukan kekerasan apabila Sassy dirasa melakukan hal yang salah di matanya. Kekerasan demi kekerasan dialami Sassy bahkan ketika dia sedang hamil. Tapi di saat itu pula jiwa Sassy menolak untuk memberontak, dan dia selalu percaya bahwa sosok Alan yang dulu akan kembali. Kehidupannya perlahan-lahan hancur. Pernikahan tidak seindah bayangan, dipaksa melepas perusahaannya, dan tidak diijinkan bertemu sahabat-sahabatnya.

Novel ini..jujur bikin emosi bacanya, apalagi kita seolah diajak untuk merasakan apa yang dirasakan Sassy dan juga perjuangan-perjuangannya.

Novel ini bikin yang belum nikah jadi takut nikah? Haha, gak juga sih. Tadinya saya pikir juga gitu :) Novel ini memang menyajikan sisi lain dari indahnya pernikahan yang sering terjadi dalam realita kehidupan, tapi juga memberikan banyak sekali pelajaran bagi seorang perempuan, khususnya.

Meskipun novelnya berkesan serius, gaya humor Clara Ng juga masih bisa ditemui. Setelah bingung dengan ending novel The (Un)reality Show, Tea for Two berhasil mengobati kekecewaan saya.

Novel ini highly recommended deh buat penggemar novel-novel Indonesia.
Happy reading!!!^^