REflekSi Diri

Pernah gak kita sebel gara-gara ada orang ngerokok dengan seenaknya di sebelah kita? Ganggu banget kan? Apalagi udara bersih yang pengen kita hirup jadi bercampur dengan berbagai macam asap rokok itu. Malesnya...
Atau mungkin sebel karena tiba-tiba ada yang nyerobot antrean kita? Enak aja kita sudah susah-susah ngantri, mereka pengen duluan!
Huh, serangkaian kata-kata menghakimi langsung terlontar (eits, dalam benak aja sich ^^).
Yang paling sering mungkin liat orang buang sampah seenaknya, meskipun hanya bungkus permen yang kecil itu...
Pada gak takut kepergok John Pantau ya? Kan gak seru dipermalukan di tivi nasional. Weks!

Sering atau bahkan tiap hari, waktu meliat kejadian itu, nada-nada mencemooh langsung keluar dalam benakku.
"Gak pernah diajari sopan santun ya?", "Gak toleransi banget sih?", dan lain sebagainya. Emang sih pada akhirnya cuma keluar gerutuan saja, gak langsung ngomong ke orangnya. Hehe...

Tapi tunggu, emang aku gak pernah ngelakuin kesalahan? Emmm, pernah sih.
Masih juga nyebrang jalan gak pada tempatnya, pernah naik motor bertiga pula. Hehe...
Kenapa ya, kalo kita ingat kesalahan kita, kita cuma cengar-cengir gak berdosa gitu. Tapi, kalo yang ngelakuin kesalahan orang lain, ya ampun ngomelnya gak ketulungan.

Beberapa hari ini, tiba-tiba disentil lagunya Ebieth yang sering muncul di tivi:
'Tengoklah ke dalam sebelum bicara
Singkirkan debu yang masih melekat...'

Iyah, benerrr...
Masih boleh kok negur orang yang ngelakuin kesalahan, tapi juga ingat kalo kita juga wajib memperbaiki kelakuan diri setiap saat. Melakukan yang terbaik setiap hari!

TakJil


Takjil, makanan pembuka pada saat buka puasa.

Kalo jaman kuliah dulu, tinggal keluar rumah kos, ada berderet penjual takjil dadakan yang memenuhi sepanjang jalan kampus Brawijaya.

Wuih senengnya. Perut yang masih kosong plus lapar mata ngeliat aneka takjil yang seakan melambai-lambai minta dibawa. Hehe...

Kebanyakan sih jualan aneka macam es, dari es campur, es kopyor, es kacang ijo, sampai jus stroberi yang merah menyala. Ehm (tinggal nulis gini kok jadi ngebayangin ya???)

Selain itu, hidangan wajib anak kos di kota Malang, ya cilok! Hmmm....

Wah, masa-masa itu bikin kangen. Nungguin bedug maghrib sambil liat macetnya jalan MT Haryono di sore hari.

MEnu takjil sekarang berganti, lebih beraneka macam, lebih gratisan (karena ada di rumah. Hehe...), dan mungkin lebih menyehatkan.

Kurma adalah menu takjil wajib saat bulan puasa. Kebetulan satu keluarga penggemar kurma, ehmm langsung tandas dalam sekejap ketika berbuka.

Kadang-kadang ganti aneka takjil bikinan sendiri, semisal martabak dan kawan-kawannya. Tapi kalo di rumah jarang ada menu minuman pembuka yang berbentuk es. Seringnya teh hangat. Katanya biar perut gak kaget karena hampir seharian gak terisi apa-apa.

Ternyata emang bener ya kalo takjil tu membantu proses pencernaan bekerja maksimal. Karena selama seharian sistem pencernaan kita nyaris tidak bekerja, dengan makan takjil, usus kita tidak terlalu kagetnya dengan masuknya makanan yang tiba-tiba.

Wets, pantes aja, jaman kuliah dulu aku sering bermasalah sama perut. Lah abis denger azan maghrib langsung ambil air minum terus makan makanan berat.

Setahun kemaRin

Kamis dini hari (14 Agustus) mirip orang hilang, aku dan keempat temanku luntang-lantung gak jelas di depan Masjid Agung, Jogja. Menunaikan sholat Subuh dan bergegas naik becak buwat cari penginapan.
Dasar apes, bapak tukang becak memanfaatkan keluguan kami dengan menyarankan penginapan yang belakangan diketahui ternyata "rawan."
Masih dalam ketidaktahuan, kami menikmati pengalaman pertama naik TransJogja menuju Candi Prambanan.
Sepulang dari Prambanan, ketika naik becak buwat keliling-keliling kompleks keraton, barulah kami sadar kami salah cari penginapan (dari perbincangan kami dengan si abang tukang becak).
Beruntungnya kami bertemu dengan orang yang dengan tulus memberi tahu. Tapi tidak dengan tulus sih, ujung-ujungnya si abang tukang becak juga promosi penginapan murah yang lokasinya lebih jauh lagi.
Tidakkkk!!!
Ampun deh! Kita cari sendiri saja lah...

Jumat pagi (15 Agustus) di penginapan yang berbeda (asli beda banget!!!) kami memulai perjalanan kami ke Candi Borobudur.
Dengan modal kenekatan dan SKSD tingkat tinggi kami berangkat.
Okey lah, kita semua pernah ke Borobudur - ikutan study tour. Tapi kalo naik kendaraan umum, anyone knows? No!Mulai dari naik TRansJogja, terminal Jombor, sampai naik bus jurusan Borobudur, asking skill mutlak diperlukan!
Tapi tetep dengan tampang sok tau dan nggak panik (saran tiap orang sih gitu, biar gak jadi sasaran kejahatan katanya).
Hehey, beruntungnya kami!
Meskipun bus yang kami tumpangi reyot dan ngebut buanget itu kami pulang pergi dengan selamat.
Pfiuhh, suer mirip naik rollercoaster. Banting sana banting sini. Dipikir jalan raya punya sendiri kali ya...

Pengalaman yang juga berkesan adalah saat kami menikmati makan malam lesehan di Malioboro.
Karena gak punya referensi tempat makan yang bagus di daerah Malioboro, kami asal pilih aja sesuai dengan menu yang kita suka.
Yup, di sinilah kami bertemu ikon Malioboro yang terkenal itu, para musisi jalanan!
MAkanan masih belum dihidangkan ketika pengamen pertama muncul. Seorang ibu-ibu bawa kecrekan yang nyanyi sebuah lagu Jawa.
Pemusik Malioboro ternyata kalo nyanyi full satu lagu ya? Hihi, baru tau...
Aduh, gak ada uang kecil. Ini aja makan sekalian mau nukar uang. Ada juga recehan, tapi gak banyak.
Terpaksa lah kami kasih yang sedikit itu. Walhasil, tu ibu pergi sambil ngomel-ngomel T_T
Yang kedua, tampangnya masih muda, bawa gitar, dan mulai nyanyi lagu Sheila On 7. Kami sudah tolak dengan halus, tapi masih nyanyi juga. Ya udah dikasih recehan lagi. Eh, uangnya dibalikin.
Ya maap, kan udah gak boleh nyanyi!!!
Santap malam kita berantakan karena buru-buru, takut ada rombongan pengamen satu kompi!

Hari ini...
tiba-tiba kangen suasana itu
BUkan karena pengen kembali
Tapi ingat sebuah keinginan bersama seorang sahabat yang belum tercapai
Masih banyak tempat yang ingin kita jelajahi, sista!

Holiday...holiday...





Pfiuhh, lama nian diriku terbelenggu di dalam dunia tanpa teknologi (apa sichhhh)

Maksudnya gak pernah eksis di blog sendiri gitu:D

Liburan benar-benar bikin hidup sangat tidak produktif. Maunya bermalas-malasan dan otak bersikeras menolak buat berpikir serius.

Hampir sebulan tanpa cerita, dimanakah aku?

Minggu pertama mengunjungi Surabaya, silahturahmi keluarga. Kangen sama keponakan yang lagi lucu-lucunya. Naik bus lewat Lumpur Lapindo yang terkenal itu. Waktu itu pas ada berita munculnya semburan baru di seberang jalan yang bikin satu rumah mewah hilang ditelan bumi. Katanya jalan raya Porong dikhawatirkan ikut-ikutan ambles.

Weits, alhasil sepanjang perjalanan segala macam doa selamat sampai tujuan gak henti-hentinya kubaca.

Minggu kedua, liburan ke Wisata Bahari Lamongan!!

Serunya dapet liburan gratis tis tis. Hehe....

Ini kunjungan kedua ku ke WBL. Niatku cuma satu, pengen liat laut yang sudah lama banget gak pernah ke sana. Lagi males masuk ke tiap wahana n ngantri yang segitu panjangnya.

Sampai sana, cuma naik Shuttle Space, sepeda air, piring terbang, udah. Segitu aja. Ngantrinya gak sanggup!!!

Ada satu yang pengen banget dicoba, tapi belum terkabul: flying fox.

KEliatannya seru, meluncur di atas laut. Tapi ya itu tadi ngantri banget!!!!

Lain kali harus dicoba...

Minggu ketiga

Kembali ke Malang, memenuhi permintaan adek buwat nonton Harry Potter: The Half-Blood Prince. Sebenarnya aku bukan penggemar HarPot sich, tapi buat adek apa sih yang enggak?? xixixi

Harry Potter kok gak seseru yang dulu ya? Apa mungkin karena Daniel Raddcliffe sudah gak seimut dulu? Hehe...

Minggu keempat alias minggu terakhir liburanku

Mengunjungi Surabaya lagi. Kali ini acaranya ultah keponakan tercinta. Abis itu pengen nyebrang ke Madura lewat Jembatan Suramadu.

Asyikkk, akhirnya nyebrang juga. Hehe...

Lumayan 30ribu bolak-balik. Hehe...miskin mendadak beramai-ramai.

Pas sampai di Madura (ujungnya :p), coba-coba wisata kuliner rujak cingur asli di tanah Madura. Serasa di planet mana gitu, gak ngerti logat sana. Cuma senyum-senyum sendiri waktu pak sopir menerjemahkan pesanan kita ke penjualnya.

Enough, gak lagi-lagi deh liburan diperpanjang sampai segitu lama.

Waktunya keluar dari zona kenyamanan, menghadapi kenyataan, dan meraih mimpi.