Once upon a time on a bridge

Kejadiannya udah lama banget. Jaman masih kuliah semester awal. Jaman-jamannya tiap minggu masih ngerasa homesick, belum klop kalo tidak pulang ke kampung halaman.
Biasanya Jumat sore, abis kuliah terakhir langsung cepet2 balik ke kosan, packing, n cabut!! Sebenarnya di depan kosan ada angkot ADL yang langsung meluncur ke terminal bus Arjosari. Tapi rutenya itu loh, muter2 ga jelas, ampe ketiduran saking lamanya.

Aku prefer naik angkot ABG yang biasanya mangkal ga jauh dari Poltek. Tinggal jalan bentar lewat jembatan SuHat (Sukarno-Hatta), abis itu langsung deh naik ABG.
Pas lewat jembatan SuHat, aku ketemu bapak2 – seorang bapak maksudnya – lagi kebingungan. Katanya sih abis kecopetan dan ga bisa pulang ke rumah. Niatnya negur aku waktu itu buat nanya jam berapa n minta bantuan sedikit uang buat ongkos pulang.

Ga tau kenapa – mungkin waktu itu lagi banyak pikiran atw belum terketuk aja hatinya – aku bilang ga bisa bantuin. Sesuatu yang aku sesali ampe sekarang :(
Waktu itu sempat kepikiran sapa tau bapak itu mau nipu? Atw kalo aku ajak bareng sekalian – karena kebetulan searah, tu bapak ngaku rumahnya di Pandaan – bisa diapa-apain? Atw jangan2 bapak ini salah satu acara menguji kebaikan orang2 yang waktu itu lagi happening? Pokoknya yang aku lakui waktu itu self defence. Jangan2...

Tapi gara2 ga nolong juga, sepanjang perjalanan jadi kepikirann :(. Jangan2 bapak itu emang butuh pertolongan? Gimana dong kalo iya...

Bener sih, aku bukan siapa2 bapak itu. Why do I care? Tapi coba pikir kalo kita dalam posisi tu bapak. Sakit hati ga dicuekin orang? Merana, merana deh.

Suatu hari aku harus lebih peka terhadap sekitar. Bantuan diperlukan untuk menolong orang yang membutuhkan. Ga perlu deh kita mikir jangan2 ni orang nipu atw prasangka buruk lainnya. Itu sih urusan orang yang bersangkutan dengan Sang Pencipta.

Kita cukup memberi, memberi dengan ikhlas...

Menjadi GeneRous...

Semakin banyak memberi, semakin banyak kembalinya. Sama halnya dengan pernyataan bahwa ‘apa yang kita berikan, akan kembali kepada kita.’
Kalau begitu kita seharusnya memberi, memberi, dan terus memberi jika kita ingin mendapat apa yang kita inginkan.
Dalam keadaan sedang sedih, tertekan, dan marah; memberi adalah sesuatu hal yang kita butuhkan. Tidak harus kaya untuk bisa memberi.

Beri orang lain senyuman, jika kita menginginkan kebahagiaan
Hibur orang lain yang kesusahan agar kita sadar bahwa kita masih lebih beruntung dari

orang lain
Beri orang lain kata maaf agar hati kita tidak tertutup amarah
Apakah semua itu butuh biaya?

Mulailah sekarang! Mulailah dengan tersenyum!
Siapa tahu senyuman kita akan mengangkat beban kesedihan orang lain.
Tersenyumlah! Maka dunia akan tersenyum kepadamu...

- UPHIÊT –

FavouriTe QuoTAtion

A dream is a wish your heart makes
Mario Teguh

IMPIAN itu berasal dari hati, sesuatu yang benar-benar kita inginkan untuk terwujud.
IMPIAN itu bukan keinginan sesaat yang tiba-tiba muncul di benak kita.
IMPIAN itu adalah sesuatu yang semestinya harus kita capai dalam kehidupan.

Ibarat sebuah perjalanan, impian adalah tujuan. Pilihan jalan, lamanya perjalanan, dan kendaraan yang dipakai tergantung kita.
Jika kita ingin sampai tujuan dengan cepat, kita sebaiknya memilih jalur yang paling pendek, tidak macet, tidak mampir-mampir, dengan kecepatan maksimum, dan kendaraan yang handal.
Ibarat perjalanan, impian bisa cepat terwujud jika kita memilih untuk fokus, kerja keras, pantang menyerah, dan berada di jalur yang tepat.
- UPHIÊT –