Indah pada Waktunya

Akhirnya beli buku juga!!!
Fiuhh, setelah berbulan2 puasa melirik Gramedia dan hanya dengan rasa penuh penderitaan memandangi buku favorit dari kejauhan saja.
Hiks, ternyata saat2 paling menyiksa dalam hidupku adalah berdiam diri terlalu lama tanpa bacaan baru!
Finally, penderitaan itu berakhir juga!
Sebenarnya bukan buku favorit yang telah lama diincar, malah lebih pada love at first sight to that book!
Akhir2 ini skripsi telah menyihirku menjadi orang yang tak teratur. Tidak bisa berkembang karena ketika sedikit berbelok, maka perasaan bersalah karena menunda skripsi segera melanda. Liburan ke Jogja pun sering kali terusik dengan skripsiku yang terbengkalai di rumah. Skripsi memang belum sepenuhnya tuntas, tapi sedang memberi sedikit space untuk bernafas lega. Setidaknya tinggal revisi di akhir.
Kick Andy episode “Lentera Jiwa” telah membuatku terusik di zona nyaman yang selama ini membuaiku. Aku jadi sering merenungi diri dan berkata “Why?”. Kenapa sih di saat2 yang seperti ini? Jadi agak takut buat segera lulus. “What will I do next?”
Tarikan nafas panjang dan dalam frekuensinya menjadi lebih sering.
Ingin rasanya untuk segera menyusul teman2 angkatanku yang satu per satu telah meninggalkan kampus dan memulai karir mereka yang perdana. Ngebet malah!!
Tapi setelah itu apa? Kerja kantoran? Punya gaji? Terus apa?
Kalau diputar kembali ke awal sebelum memilih kuliah. Akuntansi tidak ada di dalam agenda perjalanan hidupku. Seingatku waktu SMA, jurusan seperti Hubungan Internasional, Komunikasi, atau Sastra Inggris menjadi hal yang lebih menarik dari pada ilmu-menghitung-uang-orang-lain itu.
Beberapa hal yang selalu konstan menjadi daya tarik dalam perjalananku adalah: buku, budaya, perjalanan (traveling), dan bahasa.
Saat ini tengah memaksa menyelesaikan tanggung jawab terhadap orang tua (seperti kara Demian), menyelesaikan skripsi. Mungkin, setelah ini memang akan mencoba untuk memulai kerja kantoran. Setidaknya untuk mengumpulkan modal untuk sesuatu yang saat ini masih samar, dan pastinya untuk membalas budi ibu tercinta.
Eitss, kembali ke buku. Tiba2 jatuh cinta pada buku Ciao Italia! yang menulis perjalanan seorang Indonesia yang menjadi penduduk sementara di sana.
Buku ini akan melengkapi koleksiku yang memang didominasi sesuatu yang berbau traveling, entah itu novel atau kisah perjalanan seperti ini.
Aku tidak tau pasti, tapi yakin puzzle2 yang berserakan akan segera terkumpul entah kapan, tergantung seberapa keras usahaku. Tapi semuanya ini mungkin memang berhubungan dengan apa yang aku inginkan.
Seperti lagunya Delon kan? Semua itu pasti akan indah pada waktunya!

JOGJA

Jogja itu…asli
Jogja itu...ya Jogja
Dengan segalanya yang masih khas, jauh dari modernisasi yang berlebihan, Jogja tetap tempat yang nyaman untuk berlibur.
Berjalan kaki sepanjang bentangan Malioboro, Stasiun Tugu-Benteng Vredeburg selalu meninggalkan kesan Jogja yang begitu hidup di malam hari.
Pegel2 pasti terbayar dengan serunya tawar-menawar di sepanjang trotoar yang menjual berbagai souvenir khas Jogja.
Itu buat yang laper mata dan berjiwa belanja tinggi :p
Blusukan Pasar Beringharjo di sore hari semakin menggoda mata pebelanja. Sekilas pasar ini mirip Pasar Besar Malang di lantai dua. Deretan penjual sandang beraroma batik membuat kaki seakan tidak pernah berhenti melangkah
Pfiuhh, kalo ada yang jual kaki cadangan, aku mau pesen sepasang!
Malioboro takkan pernah habis dijelajahi dalam semalam, apalagi kebanyakan toko dan lapak pinggir jalan mulai berkemas pukul 9 malam. Hanya menyisakan berderet warung lesehan dengan para musisi jalanan mereka.
Mungkin bagi para traveler wanita akan lebih aman dan nyaman untuk menikmati Malioboro dari dalam McD Mal Malioboro. Bukannya promosi, sekedar cari aman dari kemungkinan kejahatan, karena ada security yang berjaga.

Jogja semakin seru dengan adanya TransJogja.
Yup, kendaraan yang satu ini emang saudara muda TransJakarta itu!
Cukup bayar 3000 perak, keliling Jogja sepuasnya!
Pertama kali naik TransJogja, langsung jatuh cinta!
Apalagi petugas di shelter dan di dalam bus selalu dengan senang hati menunjukkan rute yang harus kita tempuh.
Maklum waktu itu kita cuma modal nekat berangkat ke Prambanan!
Mau ke Prambanan atau Terminal Jombor (ke Borobudur), rute yang ditempuh dibuat mengelilingi Jogja.
Mungkin emang sengaja ya supaya wisatawan bisa tau seluruh Jogja.
Jauh tapi seru! Fasilitas TransJogja yang berfungsi baik (AC) membuat perjalanan menyenangkan.
Apalagi keinginan kami buat tau lebih banyak tentang Jogja sedikit banyak telah kesampaian.
AmPlas (Ambarukmo Plasa), UGM, Gembira Loka, MonJaLi (Monumen Jogja Kembali), Stasiun Tugu, telah kita lewati meskipun tak sempat mampir.

PENGALAMAN TERBURUK: naik becak (karena sesuatu yang tidak perlu diingat!!)
PENGALAMAN TERBAIK: Borobudur masih yang terbaik! (meskipun bukan di Jogja J)
HAL YANG TIDAK KESAMPAIAN: Naik kereta api ke Jogja
Soto Sulung Stasiun Tugu
Ke Kota Gede
Jogja seru! Dengan teman seperjalanan yang juga seru! Dengan penginapan yang...akhirnya nyaman!
I’ll be back for the next experience!
Mungkin untuk menikmati Soto Sulung sebelum kembali dengan kereta api....
JOGJA, I’LL BE BACK!