RSS

[REVIEW BUKU] Bajak Laut Popcorn

Judul: Bajak Laut Popcorn
Penulis: Alexander McCall Smith
Penerjemah: Harisa Permatasari
Penerbit: Buah Hati
Tebal: 144 halaman
Cetakan I, April 2010
Goodreads Rating: 3.78/.00


Di sebuah tempat tidak terlalu jauh dari Jamaika, terdapat titik-titik empat pulau kecil yang disebut Kepulauan Popcorn. Awal mula penghuni kepulauan Popcorn adalah para pelaut yang sudah lelah berlayar dan menginginkan tempat tinggal tetap untuk membina keluarga. Generasi demi generasi lahir kemudian. Penghasilan utama penduduk Kepulauan Popcorn tidak lain dan tidak bukan adalah bertani popcorn atau berondong jagung. 

Di salah satu Kepulauan Popcorn, tepatnya di Pulau Besar, tinggallah Lucy bersama adiknya, Sam dan kedua orang tuanya. Lucy juga memiliki seorang sahabat bernama Hermione yang tinggal bersebelahan dengan rumahnya di salah satu perkebunan popcorn.

Saat musim panen tiba, Lucy dan teman-temannya akan berlibur sekolah dan ikut serta dalam panen besar. Secara rutin Kapten Foster akan datang bersama kapalnya untuk mengangkut hasil panen untuk diperdagangkan. Biasanya Kapten Foster akan datang lagi untuk mengangkut hasil panen kedua.

Hari itu Kapten Foster dan kapalnya kembali lebih cepat dari perkiraan. Ada yang aneh, ada sesuatu yang telah menimpa Kapten Foster, sesuatu yang terasa buruk. Kapal Kapten Foster dirampok bajak laut, seluruh popcorn yang diangkut lenyap diambil mereka.

Bahkan sebuah rencana buruk akan tetap lebih baik daripada tidak memiliki rencana sama sekali.

Sudah diputuskan, Lucy, Hermione, dan Sam akan ikut bersama Kapten Foster dan anjingnya, Biscuit, dalam pelayaran berikutnya. Tugas mereka adalah mengawasi keberadaan kapal lain sementara Kapten Foster beristirahat. Seperti kemungkinan terburuk yang sudah terbayangkan, kapal bajak laut itu muncul lagi!

Seorang kapten kapal, dengan anjing kecil, dan tiga orang anak kecil bukanlah halangan yang menakutkan bagi sekumpulan bajak laut yang jahat. Setelah memindahkan semua hasil panen ke kapal mereka, para bajak laut menemukan ketiga bocah tersebut sedang bersembunyi di balik tumpukan karung-karung usang. Malang nasib mereka, ketiganya ikut berpindah kapal sementara sang kapten kembali diikat dengan tali dan ditinggal sendirian di atas kapalnya.

Lucy dan Hermione diperintahkan membantu di dapur, sementara Sam dipaksa menaiki tiang-tiang kapal untuk mengikat tali-tali. Tapi mereka tidak menyerah begitu saja, sepanjang dalam penawanan ketiganya selalu memikirkan cara terbaik untuk melepaskan diri dari para bajak laut itu.

Kalau kamu ingin mengalahkan kehebatan orang lain, apa yang akan kamu lakukan? Kamu harus mencari kelemahan-kelemahan mereka.

Memanfaatkan sifat para bajak laut yang serakah dan pemalas, ketiga bocah itu mulai merencanakan sebuah usaha penyelamatan diri. Mereka menawari para bajak laut hidangan makan siang popcorn yang dimasak oleh penduduk asli Kepulauan Popcorn. Alih-alih memasak secukupnya, ketiga bocah menyiapkan bak mandi penuh dengan popcorn untuk dimasak. Banjir popcorn pun terjadi di dapur, sementara ketiga bocah tersebut berusaha mengambil alih kendali kapal.

***

Novel anak-anak 😃

Ini novel anak-anak banget, terlihat dari ukuran hurufnya yang besar-besar. Hehehe...

Kisahnya tidak terlalu membutuhkan imajinasi yang bertele-tele, lebih menonjolkan pada pesan moral yang ingin disampaikan penulis pada anak-anak. Tidak ada kekerasan yang ditampilkan, bahkan hukuman yang diberikan kepada para bajak laut yang tertangkap pun tergolong hukuman "baik".

Karena ukurannya yang tipis, novel ini bisa dibaca dalam waktu singkat. Bahasanya juga ringan, karena memang sasaran pembacanya adalah anak-anak. Serta ilustrasi yang digambarkan membuat novel ini semakin menarik untuk dibaca anak-anak. Belum lagi sampul buku berwarna mencolok dan gambar yang menarik.

Happy Reading! 💙

Follow me on IG @uphiet_kamilah
Follow me on FB Uphiet Kamilah

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Hopping Islands di Lombok Timur


Hari kedua libur lebaran di Lombok, peserta jalan-jalan bertambah menjadi 7 orang, beberapa di antaranya janji ketemuan langsung di lokasi 😁

Kami menuju Lombok Timur. Waktu yang ditempuh dari Mataram menuju tempat penyeberangan di Lombok Timur menurut Google Map adalah 2 jam 18 menit, kami menempuh hampir 3 jam karena urusan jemput-menjemput dan sarapan setengah siang. Hehe... Selain itu, kondisi jalan yang tidak terlalu lebar dan banyak kendaraan membuat sopir tidak bisa memacu kecepatan.

Padak Gua Harbour
Karena masih musim liburan, kondisi pantai di sini ramai sekali. Kebanyakan adalah wisatawan lokal, hanya beberapa terlihat wisatawan asing. Kami menunggu salah seorang teman yang sedang proses tawar-menawar boat yang akan kita sewa seharian di sini.

Padak Gua

Setelah semua on board, berangkatlah kami menuju lokasi pertama. Sepanjang perjalanan kita akan disuguhi lautan biru nan luas, dan beberapa pulau kecil yang tersebar di sepanjang bentangan Selat Alas yang memisahkan Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Gelombang cukup besar karena memang kita sedang berada di selat Alas. Agak ngeri juga karena di boat yang kami sewa tidak disediakan life jacket. 15 menit kita telah sampai di tujuan.

Gili Petagan
Tujuan pertama kami adalah Gili Petagan, pulau paling jauh dalam rencana destinasi kami hari itu. Kita tidak akan menuju daratan pulaunya, hidden gem di sini adalah kawasan mangrove atau hutan bakau yang tersebar luas, seakan pohon-pohon ini muncul dari dalam laut.

Gili Petagan

mangrove di Gili Petagan
Kita diperbolehkan untuk turun dari boat, dan menyusuri jembatan bambu yang sengaja dibuat untuk pengunjung buat menikmati dan bersantai dengan dikelilingi hijaunya hutan bakau. Ada gazebo kecil untuk beristirahat.

Setelah puas menikmati rimbunnya hutan bakau di sini, kami berangkat menuju destinasi kedua. Sebelum benar-benar meninggalkan Gili Petagan, kita akan disuguhi pemandangan cantik hutan bakau. Sebentar kita akan lupa kalau sedang berada di lautan, pemandangan mirip seperti menyusuri sungai di Kalimantan. Begitu hutan bakau habis dari pandangan, lautan luas kembali terbentang.

Gili Kapal
Tujuan kedua ini hampir gagal kita kunjungi. Gili Kapal adalah sebuah gusung, atau pulau pasir. Seperti pengalaman sebelumnya, gusung kadang terlihat kadang tidak tergantung tingginya air laut. Saya sudah rela tidak bisa menginjakkan kaki di Gili Kapal ketika dari kejauhan terlihat warna laut yang hijau tosca mendekati putih, yang artinya pulau pasirnya sudah terendam air laut.

Gili Kapal

Kapal semakin mendekat dan mulai mematikan mesin. Mungkin cuma disuruh liat saja, pikir saya kala itu. Ternyata, masih terlihat gundukan pasir yang sesekali dihempas ombak. Tidak seluas Gusung Sanggalau, Derawan yang sebesar lapangan bola, Gili Kapal terlihat hanya sepetak tanah kecil yang bahkan tergulung ombak dan siap-siap menghilang dalam ketinggian air laut.

Beberapa dari kami turun dari boat, dan beberapa teman tetap berada di boat untuk kepentingan pengambilan gambar. Hehehe...I'm super excited!

Gili Bidara
Sudah banyak pengunjung ketika kami datang. Banyak yang snorkeling dan berenang. Kami rehat sebentar sambil menikmati pemandangan laut yang segar memanjakan mata.

Gili Bidara
Jangan terpaku pada keramaian, pulaunya kecil, lebih baik menelusurinya dan mendapatkan ketenangan di sisi lain pulau.

Gili Bidara

Gili Kondo
Kebanyakan wisatawan lokal mengunjungi pulau Kondo, pulau paling terdekat dari daratan. Di sini suasana lebih ramai daripada di gili Bidara. Kami berhenti sebentar di sebuah warung untuk secangkir kopi dan mie instan dan sebuah obrolan.

Lagi-lagi hindari keramaian supaya dapat benar-benar menikmati keindahan pulau ini. Pasir pantainya beda dengan di daratan, campuran warna putih, oranye, merah, dan pastinya sangat lembut.

Gili Kondo
Akan lebih menyenangkan jika kita bisa mendirikan tenda dan menikmati sunset sekaligus sunrise di sana. Sayangnya, kami harus kembali ke daratan. Dari atas boat, di tengah lautan, terlihat pulau Lombok dan Gunung Rinjani yang begitu menawan.

Total Biaya
Sewa mobil (inc.sopir & BBM) 700.000/5pax            Rp140.000,00
sarapan 61.000/5pax                                                     Rp12.200,00
snack dan minuman 77.000/7pax                                 Rp11.000,00
sewa boat 460.000/7pax                                               Rp65.000,00
                                                                                      Rp228.200,00

Dari total Rp1.298.000, lagi-lagi akan jauh lebih hemat kalau perginya beramai-ramai.

Have a good journey!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cantiknya Gili Nanggu, Lombok Barat


Hari lebaran kedua, saya dan suami mudik ke Lombok. Karena kami memutuskan tidak mudik ke Sumbawa, kami akhirnya mencari tujuan lain untuk menghabiskan waktu liburan di Lombok. Diputuskan untuk menuju Lombok Barat.


Kami berangkat bersama dua orang teman lainnya, total empat orang, dengan dua buah motor. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 9 pagi itu ketika kami berangkat dari rumah. Setelah urusan jemput menjemput selesai, kami langsung menuju tujuan melalui rute Mataram-Lembar-Sekotong Barat.

Setelah setengah jam perjalanan, kami berhenti sebentar di sebuah warung makan untuk sarapan di jalan menuju Pelabuhan Lembar. 15 menit kami habiskan waktu di sana, kami kembali melanjutkan perjalanan.

Sekotong

Menuju Sekotong ternyata lebih jauh dibanding Mataram-Senggigi. Hehehe...tapi bukan berarti menyurutkan rasa penasaran saya akan keindahan Lombok Barat yang katanya masih belum sepenuhnya tereksplorasi ini. Kami melalui jalur bawah untuk menuju Sekotong, itu berarti memutari kawasan Pelabuhan Lembar. 

Waktu tempuh sebenarnya adalah satu jam 10 menit kalau menurut Google Map, tapi karena kami banyak mampirnya, pukul 11 kami baru tiba di tempat penyewaan perahu penyeberangan ke pulau-pulau di sekitar Sekotong. Hari itu kami memutuskan untuk mengeksplorasi Gili Nanggu. Ada pulau-pulau lain di sana, seperti Gili Kedis, Gili Sudak, tapi kata dua orang teman yang pernah ke sana, Gili Nanggu mempunyai lanskap yang lebih bagus. Cuss lah kita pergi....


Sekotong Boat Transport

Sebelum menyeberang, kami membeli dua buah ikan bakar untuk dinikmati di sela-sela waktu kami di Gili Nanggu. Ada banyak ikan yang disediakan di warung yang jadi satu dengan pos penyeberangan itu. Ikan kakap, ikan baronang, ikan kerapu, ikan lembain, yang semuanya besar dan masih segar.

Gili Nanggu

Waktu yang ditempuh untuk menuju Gili Nanggu tidak sampai 15 menit. Sudah banyak boat yang berlabuh di tepian Pantai Gili Nanggu. Masih musim liburan, sebagian besar pengunjung adalah warga lokal. Wisatawan luar negeri yang berkunjung ke sini kebanyakan menghabiskan waktu untuk snorkeling di perairan sekitar Gili Nanggu.


Gili Nanggu

Spot instagrammable buatan sudah banyak orang antri untuk berfoto, kami langsung menuju lebih ke dalam pulau. Mencari tempat-tempat yang tidak begitu banyak wisatawan. Gili Nanggu sebenarnya sempurna untuk snorkeling. Gradasi laut yang cantik, tidak terlalu dalam, banyak karang dan berbagai jenis ikan untuk dilihat. Tapi hari itu kami memilih eksplorasi pulau, lebih tepatnya saya yang gak mau basah. Hahaha....





Menuju lebih dalam Gili Nanggu, kita akan menjumpai jajaran pohon cantik yang jadi spot favorit untuk berfoto. Daun-daunnya yang meranggas menjadikan hasil foto kita seolah-olah sedang berada di luar negeri pada musim gugur. Cantiiiiik....




Di balik Gili Nanggu, atau pantai baratnya, banyak terdapat batu karang. Dan, di sini kita akan merasakan seolah berada di pulau pribadi. Sangat jarang wisatawan yang memilih memutari pulau seperti yang kami lakukan. Pasir pantainya begitu lembut dan pastinya lokasinya lebih bersih dibanding sisi lain Gili Nanggu yang dijejali wisatawan. Need to inform you, jika kamu berkunjung ke sebuah tempat, tolong jaga kebersihan dan jangan buang sampah sembarangan yaaaa. Kalau gak ada tempat sampah, tolong bawa pulang kembali sampahmu 😉



Bagian barat pantai Gili Nanggu


Gili Nanggu

Gili Nanggu
Sebenarnya di pulau ini terdapat sebuah penginapan, terlihat dari beberapa bangunan rumah yang ada di situ. Tapi nampaknya, sekarang sudah tidak terpakai karena kondisinya yang tidak terawat. Jadi kalau ingin bermalam di Gili Nanggu mungkin bisa dengan cara camping ya.


Bungalow tidak terawat di Gili Nanggu
Awalnya kami berniat mengabadikan momen sunset di Gili Sudak, tapi kami membatalkannya. Mengingat sunset adalah momen terbenamnya matahari dan setelah itu adalah gelap, kami tidak ingin pulang kemalaman melintasi jalan Sekotong-Lembar yang katanya agak-agak rawan. Kami memutuskan segera kembali ke daratan dan pulang ke Mataram.

Pantai Cemara

Di tengah perjalanan di daerah Lembar, saya dan suami berbelok ke Pantai Cemara. Beberapa kali berburu sunset di Lombok, kami selalu gagal karena matahari yang tertutup awan. Kali ini kami berhasil mendapatkannya di Pantai Cemara. Pantai yang begitu ramai oleh pengunjung lokal ini mengakhiri perjalanan kami menikmati Lombok Barat.


Sunset di Pantai Cemara


Total Biaya

Bensin (40.000/2 sepeda motor)                                Rp20.000
Sarapan (70.000/4pax)                                              Rp17.500
Snack dan minuman (77.000/4pax)                            Rp19.000
ikan bakar (70.000/4pax)                                          Rp17.500
sewa boat (250.000/4pax)                                        Rp62.500
tiket masuk (20.000/4pax)                                         Rp5.000
                                                                                 Rp141.500

Secara total biaya kami menghabiskan Rp527.000,00, tapi bisa menjadi lebih hemat kalau pergi beramai-ramai 😉

Have a good journey!


Follow me on IG @uphiet_kamilah

Follow me on FB Uphiet Kamilah

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Hidden Gem of Bali, Nusa Penida


Pantai Matahari Terbit - Nusa Penida


Pagi-pagi kami checkout dari hotel menuju Pantai Matahari Terbit, Sanur. Niatnya ingin berburu sunrise, tapi berujung salah jalan karena salah baca Google Map, kami cuma bisa menatap sunrise dari jalan raya. Sampai di Pantai Sanur, matahari benar-benar sudah terbit.

Pantai Matahari Terbit
Kami menuju tempat pembelian tiket fastboat paling awal menuju Nusa Penida, supaya bisa puas eksplore Nusa Penida dan tidak terlalu malam juga kembali ke Bali. Jam 8.30 waktu setempat kami berangkat menggunakan fastboat pertama pagi itu menuju Nusa Penida. Jarak tempuhnya sekitar 30 menit untuk sampai di Pelabuhan Toya Pakeh, Nusa Penida.

Di Nusa Penida kami sudah janjian dengan guide lokal yang menyewakan motor dan jasanya selama mengeksplor Nusa Penida.

Kelingking Point dan Love Tree

Untuk menuju ke sana kami harus melalui jalan beraspal yang rusak selama kurang lebih satu jam. Rusaknya jalan dan badan yang capek karena terayun-ayun di atas motor langsung hilang begitu melihat tempat ini.  Cantiiiik banget....

Tebing batu yang menjorok ke laut dan perpaduan warna biru laut menjadikan tempat ini begitu eksotis. Kalau kalian berani dan punya energi yang prima, kalian bisa menyusuri jalan setapak sepanjang tebing untuk turun menuju pantainya di bawah sana, Untuk pegangan turun hanya terbuat dari kayu yang tidak terlalu kuat dan butuh waktu 45 menit untuk sampai ke bawah. Kalau saya sih mikir seribu kali. Hehehehe, mungkin turunnya 45 menit, tapi naik bisa berjam-jam 😓

Di tempat ini juga ada pohon cinta yang begitu terkenal sebagai obyek foto wajib kalau ke sini. Yang kalau diambil dari angle yang tepat bisa dapat gambar terbaik. Sayangnya, beberapa waktu yang lalu dapat kabar kalau salah satu cabang pohonnya patah karena ada yang dengan nekat naik di cabang paling atas.

Broken Beach dan Angel's Billabong

Jalan menuju lokasi kedua lebih parah dibanding ke Pantai Kelingking, bukan hanya aspal rusak tapi juga jalan makadam atau batu-batu. Kami bertemu dengan sepasang bule yang ban sepedanya bocor. Susah untuk menemukan tukang tambal ban, karena jalanan begitu sepi, bahkan rumah penduduk juga jarang. Terpaksa mereka mendorong sepeda sampai ke tujuan/atau berbalik arah.

Surga tersembunyi kedua setelah perjalanan yang melelahkan terlihat di depan mata, Pasih Uug atau lebih dikenal dengan Broken Beach, yang dikenal karena karangnya yang berongga.
Broken Beach
Kalo datang agak siang, kita harus antri untuk foto dengan background karangnya, karena semakin lama semakin banyak pengunjung (Penting untuk mengejar fastboat paling awal demi lebih leluasa menikmati tempat-tempat wisata di Nusa Penida). Kami bergeser menuju atas rongga, dimana tidak terlalu banyak wisatawan di sini.
Broken Beach
Atau lebih ke ujungnya, untuk menikmati birunya laut dan hembusan angin 😍

Puas menikmati Broken Beach kami menyusuri jalan setapak yang tidak jauh dari situ. Ketika sudah mulai nampak karang-karang, kita akan segera melihat kolam alami nan cantik, Angel's Billabong.
Angel's Billabong
Hati-hati untuk turun ke bawah, batu-batu karangnya sangat tajam, dan lebih berhati-hati untuk berenang di lagunanya, karena jika arusnya deras bisa saja terseret ke laut. Ikuti arahan guide atau penduduk lokal demi keselamatan.

Crystal Bay

Tujuan terakhir kami adalah Crystal Bay, pantai berpasir putih nan cantik. Jika sebelumnya kita menjelajahi pantai dengan tebing-tebingnya, berada di Crystal Bay adalah sebuah relaksasi. Perpaduan pasir putih dengan deretan pohon kelapa. Pantai ini masih alami dan bersih, dengan gugusan pulau karang di kejauhan.
Crystal Bay
Kenapa nama-nama pantai di Nusa Penida kebanyakan berbahasa Inggris? Menurut guide yang menemani kami pantai-pantai ini lebih dulu dikenal oleh wisatawan asing dan belum bernama. Jadi, nama-nama yang tersemat pada pantai-pantai tersebut saat ini kebanyakan dari nama yang diberikan oleh wisatawan asing yang pernah berkunjung. Memang, sebelum menjadi sebegitu terkenal seperti sekarang, kebanyakan wisatawan asinglah yang berkunjung ke sini karena dikenal sebagi spot diving.

Crystal Bay menjadi tujuan terakhir kami sebelum kembali lagi ke dermaga untuk kembali menumpang fastboat ke Pantai Matahari Terbit, Sanur.

Sebenarnya ada banyak tempat lain di Nusa Penida yang sangat indah, seperti Pantai Atuh, Pantai Suwehan, Goa Giri Putri, yang kebanyakan berada di tenggara Nusa Penida. Tapi karena kami tidak punya cukup waktu dan tidak menginap di Nusa Penida, kami harus melewatkan tempat-tempat tersebut. Semoga ada kesempatan untuk kembali.

Cost Hari Kedua dan Ketiga di Bali
fastboat PP 75.000 x 2                                    150.000,00
sewa motor+guide 300.000/3pax                 100.000,00
makan siang+malam                                        90.000,00
hotel 560.000/2pax                                          280.000,00
pesawat DPS-SUB                                            780.000,00
                                                                         1.400.000,00                                                       

Have a good journey!

Follow me on IG @uphiet_kamilah
Follow me on FB Uphiet Kamilah

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tegalalang - Penglipuran, ke Bali gak harus ke Kuta


Saya paling malas kalo diajak liburan ke Bali, apalagi kalo musim liburan 👀
Ajakan backpacking ke Bali ini datang dari seorang teman. Saya akan mengiyakan dengan satu syarat, menghindari daerah Kuta.

Departure

Kami berangkat Jumat malam menggunakan bus Restu Mulya dari Surabaya, yang berarti harus menempuh perjalanan hampir 12 jam untuk mencapai Bali melewati penyeberangan Ketapang-Gilimanuk. Subuh menjelang ketika kami tiba di Terminal Ubung, Denpasar, Bali. Janjian bertemu dengan pegawai rental yang akan mengantarkan mobil sewaan selama tiga hari ke depan di Bali.

Tegalalang Rice Terrace

Tanpa membuang waktu, kami menuju Ubud untuk lokasi pertama kami di Bali. Belum mandi, belum cuci muka, belum ganti baju. Hahahaha

Karena masih terlalu pagi, tidak ada satu pun tenant yang buka dan masih sepi. Kami mandi seadanya menggunakan kamar mandi sebuah kafe yang masih bersiap-siap untuk buka, tentunya dengan seijin pemilik kafe. Kamar mandinya not recommended, tapi mau gimana lagi 😀

Tegalalang Rice Terrace atau terasering Tegalalang adalah sebuah kawasan persawahan yang berbentuk undakan atau terasering. Sebenarnya di Indonesia banyak banget persawahan model semacam ini, tapi perpaduan dengan pohon kelapa dan struktur lahannya membuat banyak tempat ini banyak dikunjungi. Kita bisa menyusuri jalan setapak berkontur naik turun untuk menikmati pemandangan atau mengambil angle berfoto.



Untuk menyusuri semakin ke atas memang lumayan menguras tenaga, tapi kita akan menemukan tempat yang bagus, yang tidak terlihat dari pinggir jalan. Kalau lelah kita bisa beristirahat di warung kecil yang ada di antara persawahan untuk menikmati angin sepoi-sepoi dan membeli minuman.




Ada spot berfoto yang disediakan, agaknya memang tempat ini dikembangkan untuk lokasi wisata. Beberapa orang petani yang ada di lokasi biasanya meminta bayaran seikhlasnya sebagai ganti dari kunjungan kita atau ajakan berfoto. 


Kalau kita berjalan lagi ke atas, kita akan menemukan lokasi yang sedikit tersembunyi. Ada area persawahan yang dihiasi oleh kerangka perahu yang terbuat dari bambu. Disediakan tangga bambu jika kita ingin naik ke atasnya. Lokasi ini tidak terlihat dari depan jalan. Bertanyalah pada penjaga warung supaya tidak tersesat.

Trisna Bali Agrotourism

Satu satu hasil bumi dari Pulau Bali adalah kopi, di kawasan Bangli kita akan menemui beberapa plantation atau perkebunan yang sudah dikemas menarik sebagai tempat wisata. 
Kami secara random berhenti di tempat ini, sengaja ingin menikmati sensasi kopi dari Bali. Untuk masuk, kami melewati beberapa kandang luwak yang sengaja diatur supaya wisatawan yang datang bisa melihat sendiri proses terbentuknya kopi luwak. Area duduknya menyerupai deck atau balkon, yang menghadap pemandangan perkebunan/persawahan di bawahnya.



Tidak hanya kopi luwak yang ditawarkan, banyak jenis kopi lainnya bahkan teh, yang sebagai penyambutan dihidangkan untuk welcome drinks, yang tentunya cuma-cuma alis gratis. Tapi kalo nambah atau pesan menu lain baru bayar 😃. Selain minum di tempat, kita juga bisa membeli produknya di konter oleh-oleh yang disediakan.


Desa Adat Penglipuran

Desa ini dinobatkan sebagai salah satu desa terbersih di dunia. Desa yang mempertahankan budaya leluhur ini terlihat simetris jika dilihat dari jalan masuk, karena memang ternyata tiap ukuran rumah di sana sama persis, sementara bangunannya mirip satu sama lain. Penataannya yang cantik dan jauh dari modernisasi menjadikan tempat ini banyak diminati wisatawan.



Tidak jauh dari desa adat, kami menemukan sebuah hutan bambu. Hutan bambu ini ternyata adalah bagian dari desa adat Penglipuran. Agaknya hutan ini sudah ada sejak lama karena tanamannya yang sangat rimbun. Konon katanya tidak boleh melakukan penebangan bambu secara sembarangan.


Pasar Ikan Kedonganan

Sebelum mengakhiri hari itu dengan kembali ke hotel, kami memutuskan untuk berburu makan malam. Mencari yang murah meriah tapi enak, kami menuju Pasar Ikan Kedonganan, Jimbaran. Sebelum menyantap makan malam, tentu saja kami harus beli ikannya dulu di pasar ikan. Setelah tawar menawar dan mendapat ikan yang diinginkan, barulah kami menuju warung yang berjejer di luar pasar ikan. Warung-warung itu menyediakan jasa mengolah ikan dan tempat untuk makan sambil menghirup udara pantai Jimbaran.

Cost Hari Pertama di Bali

Bus Sby-Bali                                                 190.000,00
Sewa mobil (3hari) 450.000,00/3pax        150.000,00
BBM 150.000,00/3pax                                 50.000,00
makan siang                                                  35.000,00
makan malam                                                46.000,00
Hotel 467.000/2pax                                    233.500,00
                                                                       704.500,00

Have a good journey!

Follow me on IG @uphiet_kamilah
Follow me on FB Uphiet Kamilah

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Rumah Adat Belitung dan Danau Kaolin di Tanjung Pandan, Belitung


Hari terakhir di Belitung kami habiskan menikmati wisata dalam kota. Setelah check out dari hotel, kami mengunjungi lokasi pertama, Rumah Adat Belitung. Kami datang saat hari masih pagi, kami jadi pengunjung pertama hari itu. Rumah Adat Belitung terletak di sebelah Kantor Bupati Belitung. Rumah ini berbentuk rumah panggung dengan bangunan yang terbagi dalam tiga ruang: ruang utama, pemisah/loss, dan dapur.

Rumah Adat Belitung tampak depan

teras rumah
ruang depan/ruang utama
Di dalam Rumah Adat, kita bisa mengenal tradisi Belitung, akan adat pernikahan, pakaiannya, dan kehidupan sehari-hari mereka.

adat pernikahan
Tujuan berikutnya adalah Danau Kaolin. Kalau kita memperhatikan ketika naik pesawat terbang, dari atas kita bisa melihat lubang-lubang putih biru bertebaran di beberapa lokasi di Belitung. Danau ini bukanlah danau alami, tapi terbentuk dari bekas pertambangan kaolin yang telah ditinggalkan. Hanya butuh waktu 15 menit untuk tiba di lokasi ini. Pakailah pakaian ternyamanmu karena kondisi udara di Belitung yang terik dan tidak berangin, sehingga gampang gerah.

Danau Kaolin
Danau ini begitu cantik berwarna turquoise, tapi jangan pernah berpikir untuk nyebur ke airnya. Karena mengandung mineral yang bisa membahayakan tubuh. Peringatan juga dipasang di tepi danau agar tidak masuk ke kawasan danau. 

Yang menyenangkan liburan di pulau kecil adalah, bebas macet. Sama halnya dengan di Tarakan. Karena terbiasa dengan macetnya kota besar seperti Surabaya, biasanya saya meluangkan waktu 2 jam untuk tiba di bandara. Tapi di Belitung dengan santai guide mengajak kami ngopi dulu sebelum ke bandara.

Have a good journey!

Follow me on IG @uphiet_kamilah
Follow me on FB Uphiet Kamilah

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Belitung Hopping Islands: Pulau Lengkuas, Pulau Kepayang, Pulau Batu Berlayar, Pulau Kelayang, Pantai Tanjung Tinggi

Hari Kedua

Kami menginap di Arnava Mutiara Hotel Belitung, di pusat kota Tanjung Pandan.

Jadwal hari ini kami akan mengunjungi pantai-pantai eksotis khas Pulau Belitung.

Pantai Batu Banyak
Pada umumnya wisatawan berangkat melakukan hopping islands dari Pantai Tanjung Kelayang, tapi guide mengarahkan kami ke Pantai Batu Banyak yang lebih sepi wisatawan. Berangkat dari Pantai Batu Banyak, kami menyeberang menggunakan perahu ke tujuan pertama, Batu Kepala Burung Garuda. Kami hanya bisa melihat dari atas perahu, karena memang tidak ada pantai untuk perahu bersandar. Untuk mendapatkan tampilan mirip kepala burung, perahu memang harus diarahkan ke sisi tertentu

Batu Kepala Burung Garuda

Tujuan kedua adalah pulau terjauh yang kami kunjungi, yaitu Pulau Lengkuas. Kami bergegas menuju pulau ini untuk menghindari ombak besar kalau berangkat terlalu siang. Berada di laut lepas, ombaknya lumayan terasa, terlihat dari gradasi warna laut yang perlahan berubah dari biru tosca menjadi biru gelap. Hampir setengah jam perjalanan, mercusuar yang tersohor itu mulai nampak di kejauhan. Perpaduan hijaunya pepohonan kelapa, mercusuar, dan batu-batu besar semakin mempercantik pulau ini.

Pulau Lengkuas

Naik ke mercusuarnya kita harus membersihkan diri dari air dan pasir pantai yang bersifat korosif dan memperkotor lantai. Sudah disiapkan kran air dan alat pembersih di luar mercusuar. Sayangnya kita tidak bisa leluasa menikmati pemandangan dari atas mercusuar, karena beberapa jendela yang menghadap pantai dikunci rapat. Sedangkan untuk mengambil gambar dari balik jendela terganggu jendela yang kotor dan beberapa yang ternoda cat.

view dari mercusuar

Batu-batu besar di sebelah kanan mercusuar seakan sengaja ditaruh di sana untuk mempercantik Pulau Lengkuas. Di sana adalah spot yang tepat untuk mengambil beberapa gambar berlatar belakang mercusuar.

Pulau Lengkuas

Jika ingin snorkeling, perahu akan diarahkan ke sisi kanan pulau/bebatuan. Dari atas perahu saja laut terlihat bening dan banyak ikan berenang-renang, apalagi kalo nyemplung ke dalam.

Lokasi snorkeling dekat Pulau Lengkuas

Tujuan berikutnya adalah Pulau Kepayang atau nama lainnya Pulau Babi Besar, tempat kami akan menikmati makan siang. Di sana berdiri sebuah rumah makan yang menjadi jujukan wisatawan yang melakukan hopping islands di pulau-pulau sekitar. Karena memang, di pulau-pulau lain tidak ada penghuninya. Sebenarnya Pulau Kepayang juga tidak berpenghuni. Para pengelola rumah makan berasal dari Pulau Belitung, yang datang di pagi hari untuk bekerja dan kembali ke Belitung saat petang.

Pulau Kepayang
Makan siang di Pulau Kepayang

Saat menuju Pulau Kepayang, kami melewati sebuah pulau kecil yang sangat cantik. Menurut guide kami, itu adalah Pulau Babi Kecil. Pulau kecil tak berpenghuni yang jarang didatangi kecuali wisatawan yang memang request khusus ke sana, biasanya pasangan bulan madu.

Pulau Babi Kecil

Setelah makan siang di Pulau Kepayang, tujuan berikutnya adalah Pulau Batu Berlayar. Kalau kita beruntung, kita bisa turun ke pantainya dan menikmati indahnya batu-batu besar berpadu dengan pasir pantai yang lembut. Sayangnya kali ini kami tidak beruntung. Karena kondisi pasang, pantai Pulau Batu Berlayar tertutup air laut. Lagi-lagi kami hanya bisa mendekati dan memutarinya dari atas perahu.

Pulau Batu Berlayar

Sebelum kembali ke Pulau Belitung, kami singgah di Pulau Kelayang, yang berhadapan langsung dengan Batu Kepala Burung Garuda tadi. Lagi-lagi kami tidak beruntung, karena air pasang kami tidak bisa masuk ke gua yang katanya berada di dalam Pulau Kepayang. Kami harus berpuas diri dengan hanya bermain air di pantainya.

Pulau Kelayang

Setelah berbersih diri, kami menuju Pantai paling terkenal di Pulau Belitung, Pantai Tanjung Tinggi atau sekarang lebih dikenal dengan Pantai Laskar Pelangi. Tempat ini adalah salah satu lokasi syuting film Laskar Pelangi, pantai cantik dengan batu-batu besar menjulang tinggi.

Pintu masuk Pantai Tanjung Tinggi

Pantai Tanjung Tinggi

Pantai Tanjung Tinggi

Pulau Belitung terkenal dengan budaya minum kopinya, jangan heran kalau sepanjang jalan yang kita temui akan banyak bertebaran warung kopi. Meskipun kopi yang diolah bukan kopi asli Belitung, kunjungan ke salah satu warung kopi menjadi salah satu tujuan wajib wisatawan ke Belitung. Warung kopi paling terkenal adalah Warung Kopi Kong Djie. Setelah seharian berpindah dari satu pulau ke pulau yang lain, sore hari kami mampir ke salah satu Warung Kopi Kong Djie yang ada di Belitung.

Kong Djie Coffee
Have a good journey!

Follow me on IG @uphiet_kamilah
Follow me on FB Uphiet Kamilah

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS